Make your own free website on Tripod.com

stt1.gif

Guru Perubahan

Home
Tentang STT GKE
Visi Dan Misi STT-GKE
Penatalayanan
Akademika
Program dan Minat Studi
Aktivitas Kampus
Artikel dan Jurnal
Kalender Kegiatan
Bagaimana Mendaftar?
Bagaimana Menghubungi Kami
Dewan Pengajar

Oleh : Tulus Tu'u, S.Th, M.Pd 

PENDAHULUAN

 

John Maxwell,  mengelompokkan orang,  berdasar visinya,  ke dalam empat kelompok.

Pertama,  Pengembara.     Ia tidak ada impian besar, tanpa arah,  ikut  tarikan  sesaat diri atau luar dirinya, sebab itu   ia  mengembara.         Kedua,   Pengikut.   Ada impian,  tetapi tidak diperjuangkan dengan gigih.  Malah ia ikut impian dan pengaruh orang lain. Jadilah ia orang   pengikut orang lain.      Ketiga, Peraih prestasi.  Ada impian besar. Ia berjuang sekuat tenaga, bekerja keras agar impian jadi kenyataan.  Ia berhasil dan terhormat.  Jadilah ia peraih prestasi.  Keempat,  Pemimpin.  Ada impian besar. Ia mempromosikan impian itu.  Orang lain setuju, mendukung,  bahkan ikut  berjuang bersamanya. Ia jadi pemimpin bagi pengikutnya.

 

Dari pengelompokkan itu, di manakah tempat  seorang  lulusan STT atau seorang pendeta  berada, atau saudara-saudara yang hari ini di wisuda?    Lulusan STT GKE adalah seorang pemimpin. Sebab ia telah dipersiapkan dan digembleng untuk menjadi seorang pemimpin, yang membawa pengaruh dan perubahan.

 

Perubahan yang  terjadi adalah hasil proses pendidikan dan pembelajaran. Sebab itu,  pemimpin jemaat, adalah  guru jemaat, sehingga ia juga adalah guru perubahan jemaat. Guru jemaat adalah orang yang  mendidik dan membelajarkan jemaat, sehingga jemaatnya berubah menjadi lebih baik dan lebih berkualitas

 

Judul  orasi ini,  Guru Perubahan,”  di dalami,  sebagai upaya  merespon tema Sidang  Raya PGI 2004, “Berubahlah oleh Pembaharuan Budimu,”(Roma 12:2b).  Tema tersebut,  kemudian menjadi tema  Sinode Umum GKE XXI, Juli 2005 di Balikpapan,  yang selanjutnya menjadi tema ibadah STT GKE Banjarmasin,   Semester Genap 2008/2009. Dengan ini, kita STT GKE  menyatu dengan pergumulan gereja-gereja.

 

Uraian ini meliputi :

I.    Perubahan. 

II.   Pendidikan sebagai proses perubahan.   

III.  Yesus Kristus Guru perubahan sejati.    

IV.  Pendeta guru perubahan jemaat.    

V.   Managemen perubahan perilaku beriman.

 

 

I.   PERUBAHAN

 

1.  Pemahaman  tentang  perubahan

Tidak ada sesuatupun yang berada tetap. Semuanya dan segala sesuatu bergerak terus-menerus dan  bergerak secara abadi. Perubahan  terjadi dengan tiada hentinya.  Segala sesuatu bergerak dan berubah, tidak ada yang tetap.  Semua  berubah  dan bergerak. Tidak ada yang pasti. Yang ada dan pasti adalah perubahan.    Demikian, antara lain pemikiran  Heraklitus filsuf Yunani.

 

Kini, GKE  telah berusia  74 tahun.  STT GKE telah berusia 77 tahun.  Seiring pendapat Heraklitus,  selama kurun  rentang waktu 74 tahun bagi GKE, dan 77 tahun bagi STT GKE,  perubahan  telah banyak terjadi.  Pada sisi lain,  dengan perubahan dan pergerakan waktu yang terus maju ke depan, GKE dan STT GKE  tentu  juga akan  mengalami  perubahan dalam berbagai aspek.  Sebab, keduanya berada dalam arus perubahan  dampak globalisasi, Iptek dan teknologi informatika, yang banyak mengubah wajah kehidupan masyarakat dan wajah gereja.   

 

Agar perubahan positif itu tercapai,  dibutuhkan  pemimpin dan guru perubahan jemaat yang kreatif variatif, yang  akan menolong warga jemaat  bertumbuh dan berubah ke arah yang lebih  berkenan  kepada Allah.  “Ekklesia reformata, semper reformanda,”  gereja yang diperbaharui, harus senantiasa membaharui dirinya.    Motto Reformasi ini semestinya  memberi inspirasi bagi perubahan  yang kita  perjuangkan.

 

John Edmund Haggai,  mengatakan antara lain, bahwa  perubahan akan terus  terjadi. Betapapun ada,  atau tidak adanya seorang pemimpin. Akan tetapi, tanpa pemimpin yang baik, perubahan cenderung  pada kemerosotan dan kerusakan dibandingkan  perkembangan yang baik.  Maka, dibutuhkan para pemimpin yang  memiliki kemampuan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.  Orang yang sungguh-sungguh hidup dalam  kuasa Allah dan menjadi anak Allah,  akan  dapat menjadi pemimpin yang membawa perubahan baik. Sebab pemimpin  mempengaruhi orang lain agar mereka lebih  diperkaya, manusiawi, berharga dan memuliakan Tuhan.

 

2.  Perlunya perubahan

Pemimpin jemaat, yang juga guru jemaat, adalah pemimpin dan guru perubahan. Mereka adalah orang yang telah  dipersiapkan untuk membawa arah perubahan yang baik. Perubahan tidak  dibiarkan bergerak sendiri tanpa arah. Merekalah motor dan motivator perubahan dalam jemaat dan kehidupan warga jemaat.  Tidak hanya itu, perubahan juga perlu dilakukan dalam  pelayanan kepada warga jemaat.

 

Tawar Soewardji, mengatakan bahwa  kita harus berubah. GKE harus berubah. Para pendeta harus berubah. Para Penatua, diakon dan fungsionaris pelayanan kategorial harus berubah. “Tidak menjadi serupa dengan dunia.” Itu berarti harus berbeda dengan dunia.    Penampilan beda ini sebagai wujud kesaksian gereja. Layanan yang  pasif menjadi proaktif. Yang rutin dan monoton menjadi  kreatif.   Yang menjawab kebutuhan dan minat warga jemaat.  Orientasi kepada  orang dewasa menjadi orientasi anak, remaja dan pemuda.   Agar gereja tidak ditinggalkan oleh warganya.

 

Perubahan tersebut  perlu  lebih menukik tajam lagi, yakni perubahan dalam diri para pemimpin dan guru jemaat. Jabatan pendeta tidak digeser dari panggilan menjadi “sambilan” dan batu loncatan.  Tetapi, panggilan yang dilaksanakan secara professional. Secara moral-etis, perlu ada perbedaan  antara yang pendeta dan bukan pendeta. Oleh karena warga jemaat merindukan dan membutuhkan para pemimpin dan guru jemaat yang patut dan layak untuk diteladani dan diikuti sikap dan perilakunya.  Semua perubahan itu, hanya dapat terjadi bila Roh Kudus  leluasa diberi kesempatan masuk ke dalam hati dan pikiran  kita, sehingga membaharui hidup kita.

 

Perubahan  seseorang, dimulai dari perubahan dalam dirinya. Kalau pikirannya berubah dan ia melalukan perubahan itu secara berkelanjutan,   bagus sekali Walter Doyle Staples, menulis   dalam kalimat yang puitis namun penuh tenaga.

 

     Bila engkau mengubah pikiranmu,

              maka engkau mengubah keyakinanmu

     Bila engkau mengubah keyakinanmu

              maka engkau  mengubah  harapanmu

     Bila engkau mengubah  harapanmu

              maka engkau mengubah  sikapmu

     Bila engkau mengubah sikapmu

              maka  engkau mengubah perilakumu

      Bila engkau  mengubah  perilakumu

               maka engkau mengubah penampilanmu

      Bila  engkau mengubah penampilanmu

               maka engkau mengubah  hidupmu

 

3.    Tujuan perubahan

Hati dan pikiran   yang merupakan pusat dan inti manusia,ia  pusat  kemauan untuk berbuat dan bertindak. Ia harus mengalami perubahan dan pembaharuan. Kalau ini tidak berubah, maka  manusia tidak akan berubah dan tidak ada artinya, karena ia akan ikut dunia dan sama  dengan dunia, kata A.A.Yewangoe.   Perubahan hati dan pikiran yang mewujud dan berdampak pada perubahan sikap, perilaku dan seantero kehidupan. Perubahan dan pembaharuan  hati dan pikiran terjadi oleh karya Roh Kudus.  Namun manusia juga diajak untuk ikut membaharui dirinya, kata Van Den End.

 

Maka,  sebagai  orang yang telah mengalami perubahan, selanjutnya mengembangkan hidup  dan mencapai hal-hal berikut:

              1.  Tidak  serupa dengan dunia.  Tampil beda, karena  kesetiaan pada Kristus.

              2.   Mampu bedakan  antara yang baik dan buruk

              3.   Memilih dan berpihak pada hal-hal yang    baik  dan   berkenan kepada Allah

              4.   Mempromosikan   hal-hal yang baik kepada sesamanya

              5.   Mengajak  dan  mendorong  orang  ikut berbuat baik

              6.   Menjadi panutan hal-hal yang baik

              7.   Hidup seanteronya  sebagai  ibadah sejati bagi Tuhan

 

4.   Faktor   pengaruh  perubahan  perilaku

Saifuddin Azwar,  menyebutkan  hal-hal yang dapat menjadi factor membentuk sikap dan perilaku seseorang,  a.l.   Satu,  Pengalaman pribadi yang membekas.  Dua,  Pengaruh sosok yang dianggap penting.   Tiga,   Hasil proses pendidikan.  Empat,   Hasil pendidikan Iman.  Lima, Pengaruh  adat dan budaya. 

 

 

II.   PENDIDIKAN SEBAGAI PROSES PERUBAHAN

 

1. Pendidikan

Pendidikan, menurut  UUSPN,  adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki  kekuatan spiritual keagamaan,  pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan  yang diperlukan dirinya, masyarakat dan Negara.

 

Tujuan  pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman, bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

 

Jadi, memang benar bahwa pendidikan  merupakan sebuah proses perubahan. Perubahan sikap dan perilaku  menjadi lebih dewasa.  Bila  perubahan perilaku yang baik  terjadi dalam diri  seseorang, maka hal itu  adalah hasil proses pendidikan.

 

3.  Guru

Guru adalah orang yang pekerjaannya atau profesinya mengajar.  Mengajar, kata  Andar Ismail adalah  membuat orang belajar dan menimbulkan proses pembelajaran. Yang disampaikan memikat, menarik dan mengasyikannya. Mereka memahami dan menanggapinya.  Sehingga pembelajaran menjadi proses yang aktif

 

Dalam Bahasa Srilangka,  kata guru mempunyai arti : gu =  gelap,  ru = terang,  jadi guru adalah orang yang mengajar dan membawa orang pindah dari  dalam  kegelapan menuju hidup dalam terang. Dalam kepustakaan Jawa, guru adalah orang yang menyampaikan petunjuk jalan kehidupan, apa yang baik dan buruk, bagaimana orang mencapai kebaikan.  Guru menerangi hati dan menunjukkan jalan kemuliaan. Guru dihormati dan ditaati karena memiliki karisma yang kuat.

 

Sebab itu, kata Gede Prama, banyak orang mencari guru untuk berguru. Untuk itu, mereka rela mengeluarkan tenaga, waktu dan dana yang tidak sedikit.  Dengan berguru, maka orang seperti ini ibarat membawa lentera kemana-mana, tidak ada lagi kegelapan yang tersisa, semua menjadi terang.

 

4.   Guru,  agen perubahan  hidup

Peran guru sangat besar untuk mencapai  tujuan pembelajaran. Bila tujuan pembelajaran tercapai. Lalu, peserta pembalajaran  terlibat dan aktif dalam belajar. Guru berhasil  membelajarkan dan membuat mereka  belajar. Maka pembelajaran demikian akan menghasilkan perubahan, yakni perubahan pengetahuan, perasaan dan perilaku. Sehingga guru telah menjadi agen pembaharuan bagi para peserta pembelajaran.

 

Sebagai agen pembaharuan,  perlu guru   yang baik dan berkualitas.  Guru berkualitas  menurut Peter G. Beidler, a.l:

1. Selalu belajar dan membaca untuk mencari kesuksesan dan menolong yang belajar

2. Berani ambil resiko karena ada tujuan dan berusaha mencapainya

3. Sikap positif, bangga dengan profesi, tidak merendahkan diri dan profesinya

4. Kerja keras dan menggunakan waktu untuk persiapan dan layanan pembelajaran

5. Pembelajaran adalah tugas dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan dengan baik

6. Membuat  yang belajar  percaya diri

7. Mendorong  yang belajar  terus maju dan berkembang

8. Memotivasi  yang  belajar  untuk mandiri

9. Mendengarkan, bukan hanya mendengar.

 

5.  Pendidikan dan pembelajaran universal

UNESCO 1994  mengeluarkan pokok tentang pilar dan tujuan pendidikan yang berlaku secara universal :

1. Learn How To Know (belajar mengetahui)

2. Learn How  To Do (belajar berbuat)

3.  Learn How To Be (menjadi terampil/ akhli)

4.  Learn How To Live Together (hidup bersama)

Saya tambah  yg  ke 5.   Learn How  To Believe to God (belajar percaya Allah)

 

Iman dan pengharapan  kepada Allah melahirkan cintakasih, yang mendorong orang menggunakan pengetahuannya berdayaguna bagi kesejehteraan  sesamanya.   Sehingga hidupnya berguna bagi sesamanya.

 

Michel Quist berpendapat pada manusia ada dua kekuatan besar. Pertama, kekuatan yang mengarahkan pada  perluasan dan persatuan manusia. Kekuatan ini disebut kekuatan kasih.  Kekuatan ini  mendorong manusia  membangun masyarakatnya. Kedua, kekuatan pengerdilan dan pengasingan, disebut egoisme, yang  mendorong  dirinya mengangankan sukses dan untung diri.

 

 

III.  YESUS KRISTUS,   GURU PERUBAHAN SEJATI

 

1.  Perlunya visi

Visi  akan  memberi kekuatan dan pengaruh yang besar bagi pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya.  Sebab, Visi :

1.  Memimpin orang pada satu tujuan ke depan

2.  Ada sesuatu yang dituju dengan arah yang agak jelas

3.  Ibarat  sebuah kompas yang memberi tuntunan perjalanan

4.  Menggerakkan karsa, cipta dan rasa

5.  Mendorong  inovasi dan kreativitas

6.  Mendorong partisipasi, sinergi dan aliansi

7.  Menggelorakan perjuangan

8.  Membangun komitmen dan loyalitas

 

2.  Visi

Visi adalah sebuah mimpi yang secara sengaja ditaruh dalam hati dan pikiran. Mimpi itu adalah sesuatu  yang kita harapkan terjadi pada waktu tertentu di masa yang akan datang. Mimpi  ini bukan sebuah lamunan, tetapi sesuatu yang dipikirkan dengan baik dan secara sadar. Selanjutnya, disusun strategi dan rencana serta kegiatan untuk mencapainya.

 

 

3.  Visi  Yesus,   MT  28:19-20

“KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga  dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,  dan ajarlah mereka melakukan segala yang telah Kuperintahkan kepadamu.  Dan ketahuilah,  Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

 

4.  Yesus Kristus Guru Agung

Yesus  mengajar tentang cara-cara hidup yang baik, yang benar dan  yang menyelamatkan.  Ketika Yesus mengajar, orang terpesona, karena  cara mengajarNya yang tidak seperti para akhli Torat biasa mengajar umat. Yesus mengajar dengan kuasa dan wibawa. Dia mengajar dengan berbagai metode yang kreatif

 

Ajaran yang paling agung adalah ajaran tentang kasih. Ajaran kasih sungguh-sungguh ajaran  kebutuhan dasar manusia. Kasih adalah kuasa dan kekuatan yang menyelamatkan,  membebaskan, yang  membawa hal-hal baik bagi manusia. Karena cara  mengajar dan isi ajaran yang istimewa itu, maka Yesus layak disebut sebagai Guru Agung.

 

5.  Cara Yesus mengubah orang lain

 

Satu,  Melalui  Pembelajaran

Yesus adalah guru.  Ia mendidik dan mengajar, tetapi juga  melatih  mereka untuk menjadi pemimpin.  Kelak, setelah Yesus Kristus sang Guru naik ke sorga,  tugas  mendidik , mengajar dan melatih orang-orang percaya dilanjutkan oleh murid-muridNya.  Perubahan dunia, dimulai dan dilakukan oleh Yesus dengan  mengajar  dan melatih  murid-muridNya. Perubahan dunia dimulai  dengan satu kelompok kecil.

 

Dua,  Dengan metode pembelajaran kreatif variatif

Kita menemukan delapan model pembelajaran: meodel ceramah, model bimbingan, model menghafal, model dialog, model perumpamaan, model kasus, model simbolis, dan model perjumpaan pribadi.

 

Tiga,  Ajaran melalui kata-kata

Yesus sebagai guru,  maka kegiatannya  adalah mengajar.  Pengajaran yang dilakukan  pada umumnya  secara verbal, dengan kata-kata dan secara lisan.  AjaranNya selalu efektif sampai ke otak dan masuk menembus hati.

 

Empat,    Ajaran melalui  teladan

Ada ungkapan, “Perbuatan lebih nyaring  dibandingkan dengan kata-kata.” Yesus memahami dan menyadari  hal itu.  Sebab itu, Ia mengkombinasi dan melengkapi metode kata-kata (lisan),  dengan metode  contoh atau teladan.  Metode contoh atau teladan ini sangat efektif dalam upaya mempengaruhi dan mengubah perilaku seseorang

 

4.  Perubahan sejati

 

Perubahan sejati hanya mungkin terjadi oleh karya Tuhan dalam Roh Kudus. Siapa saja yang membuka hatinya bagi kehadiran dan perjumpaan dengan Tuhan Yesus Kristus, maka di sanalah titik awal perubahan itu.   Yesus Kristus sendiri yang datang membebaskan dan memerdekakan orang dari belenggu dan perhambaan dosa. Sehingga manusia sungguh-sungguh memiliki kemerdekaan dan kebebasan sejati,  yang memungkinkannya  melayani Allah dan sesamanya.

 

 

 

IV.  PENDETA, GURU PERUBAHAN JEMAAT

 

1. Pendeta dan perannya

Posisi pendeta dalam jemaat sangat penting dan dominan dalam berbagai layananannya kepada jemaat, serta kebijakan dan keputusan yang diambilnya. Maju mundur jemaat dan perubahan yang terjadi dalam jemaat,   tergantung pada  bagaimana  strategi  yang disusunnya. Wajah jemaat  adalah wajah para pemimpin jemaat. 

 

Dalam konteks lebih luas, pendeta juga  pemimpin  social. Sebab, dalam relasi dan interaksi sosialnya, pendeta juga  terkait dengan persoalan dan pergumulan yang terjadi dalam masyarakatnya. Ada banyak hal dalam masyarakatnya, di mana pendeta   juga  dapat ambil bagian dalam memberi warna dan pengaruh yang baik.

 

2.  Pendeta, guru jemaat 

Pendeta dalam banyak aktivitasnya  merupakan activitas pembelajaran bagi jemaatnya. Lihat saja, mulai dari khotbah,  katekisasi, pemahaman Alkitab,  ceramah, seminar, pembinaan, pastoral, konseling, semuanya itu  sebagai  proses pendidikan dan pembelajaran jemaat.  Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, pendeta berusaha dan berharap adanya pengaruh,  sehingga terjadi   perubahan, pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan  hidup dan  perilaku hidup jemaatnya.   

 

3.  Spiritualitas  guru jemaat

 

3.1. Pemahaman spiritualitas

Spiritualitas  adalah,   Satu, Hidup terarah pada Tuhan dan motor penggerak hidup.  Dua,  Kekuatan  menyembuhkan, menyeimbangkan, menghidupkan kehidupan. Tiga, Api yang memanaskan dan menghangatkan kehidupannya,  Empat,   Kristus  hidup di dalam hidupnya.

 

3.2.Perlunya  spiritualitas

Satu, Pemimpin banyak godaan

Pengalaman menunjukkan bahwa setiap orang yang naik menjadi pemimpin. Maka ia merasakan   godaan tidak semakin ringan.  Justeru setelah menjadi pemimpin, godaan silih berganti datang ingin mengalahkan. Sehingga ia tidak lagi menjadi pemimpin, lalu kembali lagi sebagai orang yang dipimpin. 

 

Dua,   Makin tinggi pohon makin besar angin

Kalau pohon yang tinggi dan besar  sedangkan akarnya lapuk atau tidak dalam. Maka ketika angin kencang atau badai menerpanya. Pohon  itu akan roboh atau tumbang.   Demikian juga dengan  hidup pemimpin.

 

Tiga,  Dirinya  teladan  bagi banyak orang

Bagaimana cara agar dia dapat mempengaruhi orang lain ?  Pertama hal itu dapat dilakukan dengan menyuruh dan memerintahnya.  Kedua,  dapat dilakukan dengan mendidik dan mengajar mereka, agar mereka tahu dan memahami apa yang kita inginkan untuk mereka perbuat.  Ketiga,  kita mengajar dan mempengaruhi mereka dengan cara memberi teladan. Menurut Albert Bandura,  orang lebih mudah dan cepat  melakukan sesuatu, kalau orang itu melihatnya atau mengamatinya melalui contoh/ teladan yang dilakukan orang lain.  

 

Empat,  Pergumulan dan tekanan    lebih besar

Seorang pemimpin yang terpilih dan dipercaya memegang satu posisi. Tentu  dengan  hal tersebut  beban, tekanan dan pergumulan semakin besar dan banyak

 

Kinurung M Maden,  memberi alasan pentingnya formasi spiritualitas bagi seorang hamba Tuhan, al. 1).  Hamba Tuhan adalah manusia yang sedang berada dalam panggilan dan jalur pertumbuhan, sehingga mereka perlu formamsi spiritualitas.   2). Hamba Tuhan akan mengadakan formasi spiritualitas bagi jemaat yang akan dilayaninya, sehingga penting sekali untuk mempunyai wawasan dan pertumbuhan yang luas serta pengalamannya.  3). Hamba Tuhan berpotensi mengalami problem-problem kejiwaan (jenuh, putus asa, kesepian) dalam pelayannya.  Sehingga dengan demikian perlu mempunyai kehidupan  spiritualitas yang limpah dan segar untuk mengantisipasi problem-problem tersebut.  4). Hamba Tuhan perlu membenahi diri dan membereskan masalah-masalah batiniahnya, sehingga efektif dalam melayani dan berinteraksi dengan orang  lain dalam pelayannya.  5). Hamba Tuhan akan menjadi model bagi orang-orang yang dilayaninya,  sehingga ia perlu memiliki karakter dan kepribadian yang baik.  Karena itu, penting sekali untuk memiliki karakter diri dan kepribadian kristiani yang benar, yang melaluinya orang lain melihat pribadi Kristus  di dalam dirinya.

 

4. Pendeta, guru perubahan hidup jemaat

 

Satu,  guru perubahan hidup jemaat

Spiritualitas sangat penting, sebab dengan itu, pendeta  akan menjadi  pemimpin dan guru bagi perubahan yang efektif bagi jemaatnya.  Sebab dengan spiritualitas yang baik,  pendeta akan  menjadi  teladan  dalam kata dan tindak bagi jemaatnya. Cara mengajar  orang untuk berubah, paling efektif melalui  teladan. Sebab,  Kristus juga mengubah orang melalui kata dan  teladanNya.  Perbuatan lebih nyaring dibandingkan perkataan.  Teladan  lebih mudah dicontoh, dari pada kata-kata.

 

Dua, perubahan melalui pembelajaran

Upaya  pembelajaran  adalah upaya dan proses  perubahan. Perubahan yang terjadi pada jemaat semestinya merupakan hasil  proses pembelajaran.  Andar Ismail ,  mengungkapkan bahwa  seorang guru semestinya tidak hanya cakap mengajar, tetapi cakap juga dalam membelajarkan orang yang belajar. Karena belajar adalah proses  berubah, dengan membelajarkan dirinya,  ia sedang dalam proses berubah. Perubahan  yang terjadi meliputi; perubahan pikiran, perasaan dan  perilaku.

 

 

Tiga, perubahan  melalui kekuatan kata-kata

Kata atau kalimat yang diucapkan, baik dalam pembelajaran atau dalam interaksi sehari-hari,  memiliki dampak dan pengaruh yang besar bagi orang lain. Sebab kata-kata yang diucapkannya itu memiliki energi, kekuatan dan kuasa. Ucapan yang baik akan berdampak baik bagi pendengar. Sedangkan ucapan yang buruk akan berdampak buruk bagi pendengar.

 

Pemimpin/ guru jemaat, melalui kata-kata yang diucapkannya, akan membawa perubahan yang baik  bagi warga  jemaatnya.  Karena ia hati-hati dan bijak dalam berucap. Sadar bahwa kata-katanya memiliki kuasa mempengaruhi sesamanya.

 

Empat, perubahan melalui teladan

Teladan memiliki kekuatan besar untuk mengajar,  mempengarahi, dan mengubah orang lain. Yesus Kritus, memberi teladan untuk mengubah murid-murid.  Paulus   mengajak orang berubah melalui teladannya. Paulus, menekankan kepada  Timotius  anak didiknya, agar menjadi teladan. Teladan  saangat penting  bagi upaya perubahan.

 

Salah satu jalan dan cara yang sangat efektif untuk mengubah orang lain, tidak  lain kecuali  menjadi teladan. Tanpa teladan  seorang  guru jemaat akan  kehilangan kekuatan, kuasa, pengaruh dan wibawanya dalam mempengaruhi orang lain. Rudy Budiman berkata, “Krisis kepemimpinan  akan timbul, bila mana  keteladanan hidup pemimpin itu tidak ada.”

 

Menurut  Tawar Soewardji, bahwa warga jemaat merindukan dan membutuhkan para pemimpin dan guru jemaat yang patut dan layak untuk diteladani dan diikuti sikap dan perilakunya.

 

Lima, perubahan melalui proses meniru

Gabriel Tarde mengatakan bahwa  manusia  adalah makhluk yang suka meniru. Hidupnya  sesungguhnya 80%  diolah sebagai hasil proses meniru apa yang dilihat, didengar dan dialaminya.  Model orang lain itu, kata Albert Bandura, diamati, diperhatikan, dicamkan,  diolah dan dinternalisaikan dalam hati dan pikirannya. Bila kuat  kemauan dan motivasinya, maka ia akan mencoba menirunya.  Sehingga model itu akan membentuk sikap, hati, pikiran dan perilaku hidupnya dan bagian hidupnya.

 

Hidup dan pengalaman membentuk sikap dan perilaku. Dorothy L.Nolthe, merumuskan kalimat yang amat luar biasa, penuh tenaga dan kekuatan:

 

               Jika anak hidup dalam kecaman, ia belajar mengutuk

Jika anak hidup dalam permusuhan, ia belajar berkelahi

Jika anak hidup dalam ketakutan, ia belajar tercekam dan kuatir

Jika anak hidup dalam cemoohan, ia belajar menjadi pemalu, rendah diri

Jika anak hidup dalam kasih, ia belajar mengasihi

Jika anak hidup dalam tolleransi,ia belajar bersikap sabar

Jika anak hidup dalam dorongan semangat, ia belajar percaya diri

Jika anak hidup dalam pujian, ia belajar memberi penghargaan

Jika anak hidup dalam penerimaan, ia belajar menghargai dirinya

Jika anak hidup dalam pengakuan, ia belajar memiliki tujuan

Jika anak hidup dalam saling berbagi, ia belajar murah hati

Jika anak hidup dalam kejujuran keadilan, ia                                                       belajar kebenaran dan keadilan

Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar pada orang di sekelilingnya

JIka anak hidup dalam persahabatan, ia belajar bahwa dunia ini tempat menyenangkan untuk dihuni

Jika anak hidup dalam ketentraman, ia belajar memiliki ketenangan pikiran

 

 

V.   MANAGEMEN  PERUBAHAN  PERILAKU BERIMAN

 

1.   Lima  pembentuk sifat perubahan

 

Rhenal Kasali  memperkenalkan  lima sifat yang perlu dimiliki seseorang agar orang itu dapat mengembangkan perubahan yang positif di dalam dirinya. 

1.   O = openness to experience.  

      -  Terbuka pikiran     karena melihat  +  karena mengalami

2.   C =  conscientiousness    -  Terbuka        hati   +  telinga    

3.   E =   extrovertness     - Terbuka  pada orang lain

4.   A =   agreeableness       -  Terbuka pada kesempatan

5.   N =   neuroticism      - Terbuka terhadap berbagai tekanan

  Orang ini dapat :  sabar, tabah, teguh, konsisten pada   tujuan hidupnya.

 

 

2.   Perubahan hidup dengan H3   

 

1.   Head  - kepala     - Perlu ide + pikiran positif –(Fil 4:8)

2.   Heart  - hati    - Perlu optimis  +  sungguh-2  +  tekun –(Gal 2:20)

3.   Hand   - tangan     - Perlu bertindak + bekerja  - (Fil 4:9 b)

 

 

3.    Sukses  perubahan hidup dengan B7

 

1.  Beribadah – (I Tim 4:8, Roma 12: 1-2)               

2.  Bersih hati – (Lk 6:45 a)

3.  Berbudi pekerti  - (Fil 1:27)          

4.  Bekerja keras  - (Titus 3: 8b )

5.  Belajar dan berlatih – (Ams 6:23) 

6.  Bersahaja apa adanya –(Kol 3 :12 b)

7.  Berjiwa  sosial – (Gal 6:10, Ams 3:27)

 

 

4. Managemen  perubahan  iman

Pertama, Iman Akaliah. 

Iman akaliah adalah iman yang berpusat di otak, tempat pengetahuan berproses. Iman ini sebagai iman yang bersifat intelektual, bersifat pengetahuan.   Kalau dilakukan sebuah pembelajaran jemaat,  maka hasil yang paling awal, paling dasar, tangga dasar dan tingkat pertama, adalah perubahan pengetahuannya, perubahan akalnya.  

 

Akan tetapi, karena iman ini berpusat di otak,  belum masuk ke hati, baru di tingkat pertama, maka  ia baru hanya  sebagai pengetahuan, bersifat intelektual saja.   Karenanya, ia belum nampak dalam sikap, perilaku serta perbuatan hidupnya.

 

Mestinya, iman  disertai perbuatan. Iman tanpa perbuatan adalah kosong dan mati. “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, makan iman itu pada hakekatnya adalah mati,” (Yak 2:17). Iman tanpa perbuatan, baru sebatas pengetahuan dan persetujuan intelektual saja.

 

Dua, Iman Hatiah.

Mengapa  iman akaliah perlu ditingkatkan  menjadi iman hatiah?  Sebab hati sesungguhnya pusat hidup bagi segala aktivitas moral dan etis. Hati  menjadi tempat dan muara  segala  sikap, perilaku dan perbuatan manusia. “Karena yang diucapkan mulutnya meluap dari hatinya,” (LK 6:45).  Segala baik dan buruk ada di hati manusia. “Karena dari hati timbul segala  pikiran jahat, permusuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat,’ (MT 15: 19).  Hati seperti ini yang merusak hidup manusia.

 

Bila iman kepada Tuhan Yesus Kristus dapat menerobos masuk dan menguasai hati. Maka hati yang kotor  dan tercemar akan diperbaharui menjadi ciptaan baru. “Sebab Siapa yang ada dalam Kristus ia adalah ciptaan yang baru.” (II Kor 5:17).  Kristus telah membaharui hatinya. Kalau hatinya telah  dikuasai dan diperbaharui oleh Kristus. Maka  hatinya adalah hati yang baru dan baik. Dari hati yang demikian akan lahir hal-hal yang baik. Inilah iman hatiah.

 

Tiga, Iman Hayatiah. 

Iman hayatiah adalah puncak dari iman akaliah dan iman hatiah. Iman hayatiah  ada di tangga dan tingkat yang ketiga, sebagai puncak iman. Karena proses pembelajaran jemaat semestinya  sebuah proses perubahan pengetahuan iman,  kemudian perubahan hati dan perasaan iman. Puncaknya ada pada perubahan sikap, perilaku dan perbuatan iman.  Sebab segala apa yang telah dipelajari  dan diketahui itu, belum cukup kalau hanya sampai di situ saja.  Segala  pengetahuan iman dan perasaan iman  semestinya dilanjutkan dan diperjuangkan untuk  ditaati dalam sikap, perilaku dan perbuatan iman. Imannya telah masuk ke pikiran dan hati, menguasai pikiran dan hatinya, lalu menyerap masuk ke dalam seluruh darah dan daging, otot dan tulang,  yang mewujud dalam  kata, sikap, perilaku dan perbuatan hidupnya.  Iman hayatiah adalah iman yang dihayati dalam seluruh totalitas hidupnya. Hadir dan ada dalam seluruh aspek hidupnya.

 

 

5. Perubahan mulai dari diri  sendiri

1.   Tantangan  mengubah  orang  lain

Mengajar untuk mengubah orang lain sesungguhnya bukan  hal yang mudah. Sangat sukar, berat dan  hampir mustahil.  Apalagi, manusia adalah makhluk yang  bebas dan merdeka dalam berpikir dan bertindak. Tidak selalu dengan mudah ia mau mengikuti hal-hal yang orang lain katakan dan  lakukan untuk mengubah dirinya.  

 

2.   Perubahan  mulai dari diri sendiri

Perubahan selalu mulai dari satu orang, yakni dari diri sendiri, diri pemimpin dan guru jemaat.  Perubahan  dimulai dalam diri sendiri dan dari diri sendiri. Berawal  dari situ,  barulah  kita   mempengaruhi dan mengubah orang lain. Sebab, sebelum diri kita berubah, bagaimanakah mungkin kita dapat mengubah orang lain?  Perubahan  diri kita menjadi ciptaan baru hanya mungkin bila kita percaya, menerima dan ada dalam Kristus, sehingga yang lama berlalu dan yang baru kini datang (II Kor 5:17).

 

Di sini,  posisi  pemimpin/ guru jemaat  ada di tempat terdepan dan ujung tombak perubahan. Mereka adalah  teladan, penggerak, motor, motivator, inspirator perubahan  hidup dan perubahan  perilaku jemaat.  Mereka  adalah guru perubahan.  Mengubah orang lain, karena sudah terlebih dahulu berubah dalam Kristus.

 

 

PENUTUP

  Mulai dari diri sendiri

                Ku tatap dunia, penuh  gelimangan  sengsara      

                Ku  dengar dunia,  penuh  jerit rintih sengsara 

                Ku ingin  ubah dunia  sengsara itu

                Oh….aku kecil,   jauh dari mampu

                           Ku datang  ke lingkungan ku

                           Ku dengar  jerit rintih insan-insan

                           Ku  mau ubah mereka

                           Oh…..aku kecil,   juga tak mampu

                                              Ah…aku  amat kecil   

                                              Aku   aku mustahil ubah dunia

                                              Aku   mustahil  ubah  mereka

                     Aku,  sadar kini

                     Mustahil mengubah orang lain

                     Sebelum aku sendiri  berubah

                                   Perubahan,

                                   Harus ku mulai dari diriku sendiri

                                   Aku harus berubah,  lebih dahulu !!

                                               (Tu’u, 2-6-02).

Enter supporting content here