Make your own free website on Tripod.com

stt1.gif

Artikel 5

Home
Tentang STT GKE
Visi Dan Misi STT-GKE
Penatalayanan
Akademika
Program dan Minat Studi
Aktivitas Kampus
Artikel dan Jurnal
Kalender Kegiatan
Bagaimana Mendaftar?
Bagaimana Menghubungi Kami
Dewan Pengajar

GAGASAN ESKATOLOGI PAULUS DAN MAKNANYA

BAGI JEMAAT PADA MASA KINI

Oleh. Pdt. May Linda Sari, MTh

 

I.                   Pendahuluan

            Penelusuran terhadap pemikiran eskatologi Paulus tidak bisa dilepaskan dari perkembangan pemikiran yang ada di sekitar kehidupannya dan yang membingkai pemahaman masyarakat pada jamannya. Dengan mendasarkan diri pada pengakuan seperti tersebut di atas, maka disadari betul bahwa untuk mengenal apa dan bagaimana konsep dan pengajaran yang dipegang oleh Paulus, harus dijabarkan dulu situasi yang melatar-belakangi kemunculan ajaran tadi.

            Secara umum diketahui bahwa Paulus hidup di dalam percampuran budaya yang sangat kental. Pada satu sisi ia berasal dari daerah Tarsus  yang sejak pendudukan Alexander Agung sekitar abad ke 4 sM telah didominasi oleh kebudayaan Yunani. Tapi pada sisi lain Paulus dididik dalam keluarga yang sangat kuat memegang adat istiadat Yahudi. Paulus sendiri selalu mengatakan dirinya sebagai bagian dari umat Israel (Lih. Roma 9-11) dan dalam beberapa hal masih menjunjung tinggi warisan ke-Yahudian seperti yang tampak dalam surat-suratnya.[1]

Percampuran budaya seperti yang dialami oleh Paulus tentu saja mempengaruhi pemikirannya. Ada kalanya satu tema pengajaran yang dibuatnya merupakan perpaduan dari berbagai macam ajaran. Salah satu wujud percampuran itu bisa dilihat dari gagasan eskatologi.

Istilah Eskatologi secara harfiah diartikan sebagai ilmu yang berbicara tentang hal-hal yang terakhir. Meskipun demikian eskatologi tidak melulu berbicara mengenai hari kiamat atau akhir dunia.  Keadaan akhir dunia hanya salah satu aspek dari beberapa aspek  yang dibicarakan  dalam eskatologi. Jadi, ketika Paulus berbicara tentang eskatologi, ruang lingkupnya sangat luas. Dan seperti yang telah disebutkan di atas, pemikiran eskatologi Paulus tidak bisa dilepaskan dari pemahaman Yahudi dan Yunani. Untuk lebih memudahkan kita memahami apa saja faktor yang mempengaruhi gagasan Paulus, maka sengaja akan diuraikan tentang gagasan eskatologi pra-Paulus yang terdiri dari pemikiran dalam PL, Apokaliptik dan Yesus.

 

II.        WAWASAN ESKATOLOGI PRA-PAULUS

2.1       Menurut Tradisi Perjanjian Lama

            Sebenarnya gagasan eskatologi dalam PL terbentuk pada masa pembuangan yang dipelopori oleh Deutero-Yesaya. Hal utama yang diangkat oleh Deutero-Yesaya adalah pengharapan akan datangnya jaman baru yang keadaannya berbeda dengan jaman ini. Pemikiran ini memunculkan konsep tentang dua dunia (Yes.40:1-2, 3-5, 6-8). Dikatakan jaman ini adalah kegelapan dan dikuasai oleh dosa sedangkan jaman yang akan datang merupakan “jaman kemurahan” dan “hari keselamatan” (Yes.49:8 bnd. 51:17-23)[2]

            Setelah pembuangan, ide tadi diteruskan oleh Hagai dan Zakaria (Hag. 2:15-19; Zak.1:1-6). Kedua nabi ini mengungkapkan bahwa jaman ini telah berakhir sejalan dengan intervensi Yahwe melalui penghukuman terhadap Yehuda dalam peristiwa pembuangan. Jaman yang akan datang telah begitu dekat dan ini berarti tidak lama lagi umat Yehuda akan memasuki jaman baru.

            Pemahaman ini ditindaklanjuti dalam peristiwa pembangunan kembali Bait Allah dan bertitik tolak pada pembaharuan Bait Allah itu pulalah ada keyakinan bahwa umat Israel sekarang benar-benar berada di penghujung penderitaan dan tidak lama lagi berkat-berkat Allah akan dicurahkan sesuai dengan firman :”sejak hari ini Aku akan memberkatimu”. Hanya saja konteks eskatologi ini masih bersifat terbatas dan berciri nasionalistis, artinya semua janji itu hanya berlaku bagi umat Israel.

            Sejalan dengan pemikiran di atas, maka Georg Fohrer selanjutnya mengatakan bahwa struktur eskatologi dalam PL pada intinya mencakup konsep memgenai dua dunia yang bersifat imanen. Jaman sekarang adalah jaman yang jahat sehingga segala perbuatan dosa yang terjadi di dalamnya harus mendapat hukuman. Umat Israel juga berdosa sehingga mereka harus mengalami pembuangan. Umat Israel saat ini berada tepat di antara akhir jaman kini dan awal jaman baru. Bila jaman baru itu tiba, mereka menjadi umat pertama yang menerima keselamatan dari Allah.[3]

            Aspek kedua dalam gagasan eskatologi PL adalah munculnya pengharapan Mesianis yang lebih populer pada masa setelah pembuangan. Istilah “Mesianis”diartikan sebagai “orang yang diurapi Yahwe”. Pada awalnya ia merujuk pada figur seorang raja dari keturunan Daud tetapi dalam perkembangan selanjutnya diarahkan pada seorang imam. Pada intinya “mesias” adalah figur eskatologis yang memiliki hubungan akrab dan khusus dengan Yahwe.[4]

            Mula-mula figur Mesias digambarkan sebagai manusia biasa tetapi karena pengaruh apokaliptik, Mesias kemudian digambarkan sebagai sosok yang memiliki kekuatan supranatural. Tugas mesias adalah mempersiapkan jalan bagi pemerintahan Allah yang akan datang.

            Aspek eskatologi lain yang dibicarakan dalam PL adalah masalah kebangkitan orang mati. Sebenarnya PL tidak menganggap kematian sebagai masalah serius. Kematian baru dianggap negatif bila menimpa seseorang secara tiba-tiba atau suatu kematian prematur (Yes.38:10; Maz.102:25). Ketika seseorang mati, maka eksistensinya sudah tidak ada lagi (Maz.39:14; 103:16), ia berada di suatu tempat yang terpisah dari orang-orang yang hidup; disuatu dunia orang mati dan mereka tidak mungkin kembali (Ayub.7:9 dst; 10:21; 14:14 bnd. Maz.89:48).[5]

            Ide awal tentang kebangkitan orang mati diungkapkan dalam Yes. 26:19.[6]  Kebangkitan di sini tidak dipahami sebagai keadaan di mana orang mati memperoleh kehidupannya kembali di dalam dunia, tetapi secara aktual dipahami sebagai suatu proses di mana seseorang mengalami penciptaan baru dan hal ini dialami oleh semua mahluk hidup (Yeh.37:1-14)[7]  Yesaya 53:11 menyebutkan adanya kebangkitan “orang banyak” yang berarti kebangkitan itu dialami oleh semua orang, entah ia baik atau jahat. Jadi, gagasan mengenai kebangkitan sebenarnya merupakan gagasan yang terlalu berani dalam PL. Hal ini terjadi karena PL belum memiliki dasar yang kuat tentang keadaan orang yang dibangkitkan dan  eksistensi kebangkitan yang sebenarnya. Barangkali ide kebangkitan itu ingin menyatakan bahwa Yahwe adalah pemilik hidup manusia dan yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya.[8]

            Konsep tentang Kerajaan Allah juga sudah mulai dipahami oleh orang-orang Yahudi walaupun istilah “Kerajaan Allah” itu sendiri tidak dicantumkan dalam PL. ada dua pemahaman tentang Kerajaan Allah. Pertama, Allah dinyatakan sebagai Raja yang memerintah Israel (Kel. 15:18; Bil. 23:21; Ul. 33:5; Yes. 43:15) dan juga seluruh bumi (2 Raja 19:15; Yes. 6:5; Yer. 46:18; Maz. 29:10; 99:1-4). Di sini kekuasaan Allah diartikan sebagai sesuatu yang benar-benar dialami dan berlaku di dunia nyata masa kini. Dengan demikian Allah memposisikan diri sebagai Raja yang benar-benar ada dalam sejarah yang diwakili oleh keturunan Daud (Yes. 9; 11).

            Kedua, pengharapan bahwa pemerintahan Allah berlaku di dalam sejarah manusia memudar ketika bangsa Yahudi keluar dari pembuangan. Allah dikatakan akan menegakkan kerajaan-Nya pada masa yang akan datang dan bukan pada saat ini. Ditambah dengan pengaruh pemikiran Apokaliptik, maka Kerajaan Allah diartikan sebagai sesuatu yang transenden sifatnya; jauh melampaui sejarah dan dihadirkan dalam figur Anak Manusia (Dan. 7).

 

2.2.      Menurut Sastra Apokaliptik 

            Kata Apokaliptik berasal dari bahasa Yunani yang secara harfiah berarti menyingkapkan, membukakan; biasanya menunjuk pada sesuatu yang sebelumnya tersembunyi tetapi kini telah disingkapkan.[9]  Istilah itu sendiri pertama-tama menunjuk pada tulisan-tulisan yang berkembang pada kurun waktu yang disebut masa antar-Perjanjian  yang terhitung kurang lebih dari abad ke 2 sM sampai dengan abad ke 3M. tulisan ini tidak hanya memuat catatan-catatan sejarah tertentu tetapi juga berisi tanggapan iman yang harus diperlihatkan oleh bangsa Yahudi ketika mereka diperhadapkan dengan pelbagai keadaan yang genting dan berbahaya.

            Sastra Apokaliptik mempunyai ciri-ciri tertentu, antara lain : memakai nama samaran, biasanya mencantumkan penglihatan-penglihatan/visi yang bersifat rahasia, bahasanya bersifat mitos dan kaya dengan simol. Banyak berbicara tentang sejarah, dunia yang akan datang dan bersifat dualistik.

Sejalan dengan ciri-ciri tersebut di atas, maka wawasan eskatologi sastra apokaliptik mencakup beberapa aspek, yaitu : [10]

  1. Tentang dua dunia. Apokaliptik memandang sejarah dunia sebagai suatu garis lurus (linear) yang bergerak lurus menuju pada suatu tujuan akhir. Kaum Apokalitis berada di antara dua dunia, yakni dunia kini dan yang akan datang. Dunia kini diyakini akan berlalu dan dunia yang akan datang segera menggantikannya. Antara jaman ini dan jaman yang akan datang tidak ada kontinuitas; jaman yang akan datang adalah jaman yang tidak memiliki masa lalu.
  2. Pesimisme. Kaum Apokaliptis memandang tidak ada hal baik yang bisa diharapkan dari jaman yang ada sekarang.
  3. Klimaks eskatologi. Masa antara yang memisahkan jaman kini dan yang akan datang ternyata menjadi masa penderitaan, masa penghakiman (bagi musuh Allah) dan sekaligus juga pengantar ke dalam masa keselamatan (bagi mereka yang percaya kepada Allah). Periode antara ini dianggap sebagai puncak kesengsaraan.
  4. Jaman akhir yang akan segera datang (Imanen). Di tengah krisis yang dialami oleh umat, muncul pengharapan bahwa jaman yang penuh penderitaan akan segera berakhir.
  5. Supernatural dan dimensi kosmik. Apokaliptik memandang segala peristiwa yang terjadi di dunia ini membawa pengaruh bagi semua orang.

 

Dari beberapa konsep apokaliptik di atas, jelas bahwa orientasi pemikiran kaum Apokalitis selalu terarah pada apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang dan memandang hal-hal yang akan datang itu sebagai sesuatu yang lebih baik daripada yang ada pada saat ini. Ini menyangkut masalah eskatologi. Dengan lain perkataan, apokaliptik selalu berbicara tentang dimensi keakanan yakni suatu kawasan ide yang berada jauh di atas kemampuan pikiran manusia. Salah satu idenya adalah penegakan Kerajaan / kekuasaan Allah pada masa yang akan datang yang ditandai dengan kehadiran langit dan bumi yang baru (Wahyu 21:1 dst)

            Bumi yang baru merupakan tempat di mana seluruh rencana penebusan manusia terlaksana secara sempurna. Allah akan berdiam bersama dengan manusia dan semua janji-Nya kepada Abraham (Kej. 17:7), Musa (Kel. 6:7; Ul. 29:13) dan Daud (2 Sam. 7:24 dst.) berlaku bagi semua umat bahkan perjanjian itu diperbaharui.[11]

 

2.3.      Menurut Ajaran Yesus

            Gagasan eskatologi menurut ajaran Yesus (sebagaimana terdapat dalam Injil Sinoptik) berfokus pada masalah perwujudan Kerajaan Allah, suatu pengharapan Mesianis saat kekuasaan Allah ditegakkan di dunia ini. [12]

            Yesus sendiri mengajarkan bahwa Kerajaan Allah telah tiba di dunia bersamaan dengan kedatangan-Nya. Konsep keselamatan yang ada di balik pengharapan eskatologi ini menekankan bahwa kehadiran Yesus telah mengakhiri segala kejahatan yang ada di dunia. Perkataan Yesus yang berbunyi “Aku sudah melihat iblis jatuh seperti kilat dari langit” (Lukas 19:8) mempertegas keyakinan itu. Jadi, Kerajaan Allah menurut pandangan Yesus telah ada dan berlaku di dunia saat Ia datang. Artinya Kerajaan Allah telah ada di tengah-tengah atau di antara kejahatan dan kekuasaan dunia.

            Kedatangan Kerajaan Allah tidak memperlihatkan ciri-ciri atau tanda-tanda. Ia hadir bukan berdasarkan pertimbangan dan pengamatan manusia (Luk. 17:20-21). Ia datang sesuai dengan kehendak Allah.

            Kehadiran Yesus memperlihatkan bahwa “waktunya telah genap” (Mark. 1:15), artinya dengan pelayanan Yesus masa penantian itu sudah berakhir dan hari yang dijanjikan Allah telah tiba. Pembuktian penggenapan waktu itu juga terlihat melalui tindakan pengusiran setan, mujizat kesembuhan, pemulihan orang-orang berdosa dan penerimaan terhadap orang-orang yang diasingkan.[13]

 

III.       GAGASAN ESKATOLOGI PAULUS

            Pada bagian ini akan diperlihatkan gagasan-gagasan eskatologi Paulus yang mencakup dua aspek penting, yaitu masalah kebangkitan orang mati dan parousia Yesus. Kemudian akan diuraikan juga makna gagasan eskatologi itu bagi kehidupan jemaat pada masa kini. Dengan demikian bagian kedua ini merupakan bagian sentral dalam pembahasan makalah ini.

 

3.1.      Aspek-aspek Eskatologi Paulus

            Teologi Paulus secara hakiki bersifat eskatologis.[14]  Pernyataan ini ada benarnya karena di dlaam semua surat tulisan Paulus tergambar dengan jelas ide-ide eskatologi itu. Dan uniknya, permasalahan yang dihadapi oleh jemaat selalu dijawab oleh Paulus dengan mengacu pada gagasan eskatologi. Singkatnya, Paulus memperkenalkan gagasan eskatologinya dalam bingkai sejarah dan pengalaman hidup yang sedang dijalani oleh jemaat. Jika dilihat sepintas, surat Galatia, Korintus maupun Roma seakan hanya berisi dogma atau ajaran-ajaran tertentu tentang hukum taurat, pembenaran karena iman, keberadaan di dalam Kristus dan lain sebagainya yang tidak bersangkutan langsung dengan masalah eskatologi. Tetapi sekonyong-konyong Paulus berbalik arah dan pernyataan eskatologinya dimunculkan kembali.

            Misalnya surat 1 Korintus yang mencatat peraturan tentang perkawinan dan hidup selibat sebenarnya secara terselubung juga mencetuskan gagasan eskatologi. Dengan pertimbangan bahwa “..waktu yang ada sekarang ini sangat singkat” dan pemikiran bahwa “dunia yang kita kenal sekarang akan berlalu..” (1 Kor. 7:26, 31), Paulus menasihati agar semua orang tetap hidup dalam keadaan semula seperti ketika Tuhan memanggil mereka (1 Kor. 7:17). Orang percaya diingatkan bahwa mereka adalah “….generasi yang hidup pada waktu jaman akhir telah tiba” (1 Kor. 10:11). Kelak akan datang suatu jaman baru dan setiap orang akan berhadapan dengan tahta pengadilan Allah di mana segala sesuatunya akan diuji oleh api (1 Kor. 3:13-15). Oleh karena itu orang percaya diminta untuk memberi perhatian pada masalah-masalah rohani yang dalam hal ini menyangkut pengekangan terhadap keinginan daging, seperti dorongan seks. Menurut Paulus hawa nafsu itu bisa dikendalikan melalui lembaga perkawinan.

            Gagasan eskatologi juga diekspresikan dalam surat Roma ketika Paulus menggambarkan bahwa “…semua ciptaan menantikan saat di mana anak-anak Allah dinyatakan” (Roma 8:19). Ia juga menegaskan bahwa keselamatan itu sudah lebih dekat daripada waktu dia dan orang-orang sejamannnya mengaku percaya kepada Kristus (Roma 13:12), yakni saat di mana “..keadaan siang yang menggantikan malam kini telah tiba”. Dengan demikian Allah akan segera menghancurkan setan di bawah telapak kaki orang percaya (Roma 16:20). Jadi, konsep keselamatan dihubungkan dengan peristiwa pembinasaan terhadap kuasa kegelapan.

            Dari sini jelas bahwa dalam seluruh pemberitaannya, Paulus berdiri sebagai penerus gagasan eskatologi. Ia menindaklanjuti ide-ide yang berasal dari PL, Apokaliptik dan Yesus. Tetapi Paulus tidak mengambil gagasan itu dengan seenaknya sebab ia mengolahnya lebih lanjut sehingga dapat dimengerti oleh jemaat yang kepadanya surat itu dikirimkan.

 

1.  Kebangkitan orang mati

            Dasar keberanian Paulus mengungkapkan adanya kebangkitan orang mati semata-mata lahir dari kenyataan yang amat diyakininya bahwa Yesus benar-benar telah bangkit. Peristiwa kebangkitan Yesus menjadi bagian yang hakiki dari pemberitaan tentang eskatologi Paulus karena bagi Paulus sendiri kehadiran Yesus menandai suatu peristiwa eskatologis. Dengan demikian kematian dan kebangkitan Yesus memperkuat keyakinan Paulus bahwa eskaton itu telah terwujud pada masa kini.[15]  Sejarah telah mencapai penggenapannya dalam peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus, dengan demikian tujuan akhir Allah telah terjadi dalam sejarah.[16]  Tujuan akhir Allah tidak lain adalah penyelamatan dan penebusan seluruh umat manusia melalui pekerjaan Yesus; penggenapan itu telah terjadi pada saat ini (2 Kor. 6:2) .

            Yesus adalah “yang sulung dari semua yang dibangkitkan”, artinya bersamaan dengan kebangkitan Yesus telah tersedia kebangkitan yang lain yaitu kebangkitan orang mati. tetapi sebelum masuk pada pembahasan mengenai kebangkitan orang mati, ada baiknya jika terlebih dulu ditelusuri arti “mati” atau “kematian” menurut pemahaman Paulus.

            Paulus menghubungkan kematian dengan akibat tindakan Adam yang membawa manusia ke dalam dosa. Dengan memadukan ide-ide dari tradisi Yahudi-Perjanjian Lama, Paulus mengatakan bahwa dosalah yang membawa manusia kepada kematian; upah dosa adalah maut/kematian (Roma 1:32). Sejalan dengan itu pula berkali-kali Paulus tegaskan bahwa ada hubungan yang erat antara dosa dan masalah kedagingan : “Jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati” (Roma 8:13). Sebagaimana halnya tanaman, kehidupan yang berada dalam daging terus bertumbuh dan menghasilkan buah kedagingan, yaitu kematian.[17]

            Tetapi upah dosa yang membawa pada kematian itu telah dikalahkan melalui peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus. Kenyataan bahwa “…kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, sekali untuk selamanya…” (Roma 6:10) dan bahwa “maut tidak lagi berkuasa atas Dia” (Roma 6:9) memperlihatkan betapa peristiwa Kristus itu telah mengalahkan kuasa “masa lalu” (Roma 5:12-21). Dengan demikian “…manusia lama kita telah disalibkan bersama-sama dengan Kristus” dan “tubuh dosa kita telah hilang kuasanya” (Roma 6:6). Jadi, “….siapa yang sudah mati, ia telah bebas dari dosa (ay. 7) dan pernyataan ini berparalel dengan “kebaruan manusia”.[18] Kematian dan kebangkitan Yesus membuat manusia menjadi “ciptaan baru” dan sifat-sifat lama manusia telah ditanggalkan.

            Berdasarkan alasan tersebut di atas, maka tidak ada lagi yang perlu ditakutkan oleh manusia bahkan kematianpun tidak lagi dianggap sebagai bencana. Orang percaya telah “ada di dalam Kristus” sehingga saat matipun mereka tetap “bersama dengan Kristus”. Benarlah apa yang dikatakan dalam Roma 8:38-39 bahwa “…baik maut maupun hidup, malaikat-malaikat maupun pemerintah-pemerintah yang ada sekarang maupun yang akan datang, kuasa-kuasa di atas maupun di bawah, atau pun suatu mahluk lain tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”. Orang percaya telah menerima kemurahan Allah bahkan menjadi satu dengan semua yang dialami oleh Yesus. Itulah sebabnya Paulus memakai istilah “tidur” saat menjelaskan tentang keadaan orang mati (Lih. 1 Tes. 4:13; 1 Kor. 15:16 dst) karena ia yakin bahwa pada satu saat orang-orang yang tidur ini akan “dibangunkan”.

            Barangkali masalah yang cukup sulit untuk dijelaskan adalah mengenai masa yang terentang antara saat kematian dengan masa kebangkitan. Di mana posisi orang-orang yang mati itu? Paulus melukiskan bahwa ada sebuah tempat persinggahan tertentu bagi orang-orang mati; dalam PL disebut sheol sedangkan PB menyebutnya Hades. Dalam Yudaisme, sheol merupakan tempat di mana penghukuman maupun pengampunan terjadi, hal ini tergambar dari ajaran Yesus tentang “Lazarus dan orang kaya” (Luk. 16:19-31).[19]   

            Di dalam tempat persinggahan sementara itu semua orang mati tidak lagi memakai tubuh jasmaniahnya, tetapi mengenakan tubuh kebangkitan dan mengalami transformasi eksistensi dari keadaan yang fana menuju pada yang kekal.

 

2.  Parousia Yesus

            Gagasan eskatologi Paulus yang utama dan yang membedakannya dari konsep-konsep eskatologi lain yang ada dalam Perjanjian Baru adalah masalah kedatangan Yesus kedua kalinya.  Sebenarnya ada tiga istilah yang dipakai Paulus untuk menggambarkan kedatangan Kristus kembali, yaitu :[20]

  1. Parousia, yang mengandung dua arti yaitu hadir (Fil.2:2) dan tiba (1 Kor. 16:17; 2 Kor. 7:7). Istilah ini menunjuk pada kunjungan seorang pejabat tinggi ke suatu wilayah kekuasaannya. Dikatakan sejak kenaikan-Nya ke Sorga, Yesus berada di sebelah kanan Allah dan satu saat nanti Ia akan mengunjungi bumi kembali, hadir secara pribadi (Kis. 1:11) di dalam kemuliaan dan kekuasaan-Nya (Mat.24:27). Bersamaan dengan kedatangan-Nya itu, Ia akan membangkitkan orang-orang mati yang berada dalam Kristus (1 Kor.15:23) untuk bersatu dengan-Nya (2 Tes.2:1 bnd. Mat.24:31). Pada saat itu juga Ia pun akan menghancurkan si jahat (2 Tes.2:8 lih. Juga 1 Tes.2:19; 3:13; 4:15 dan 5:23).
  2. Apokalipsis, yakni “penyataan (Diri)” atau “penyingkapan (selubung)”. Sejalan dengan peristiwa kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Sorga, Yesus telah dinobatkan menjadi Raja (1 Kor. 15:25) dan kepada-Nya telah dikaruniai “Nama di atas segala nama” dan diagungkan. Oleh karena kekuasaan-Nya tidak terjadi di dunia, maka satu saat Ia harus menyatakan diri kepada dunia dengan segala kekuasaan-Nya itu (2 Tes. 1:7; 1 Kor.1:7)
  3. Epifania atau penampakan, biasanya menunjuk pada aspek eskatologis tentang kedatangan Kristus yang bisa terlihat. Pada saat itu Kristus akan membinasakan orang-orang yang malas. Dengan demikian kedatangan Yesus kembali bukanlah suatu peristiwa yang rahasia tapi semacam pemberlakuan kemuliaan Allah di dalam sejarah.

Kedatangan Yesus kembali bukanlah sesuatu yang bisa diramal atau direka-reka sebab melampaui perhitungan dan perkiraan manusia. Tapi satu hal yang pasti, kedatangan Yesus kembali akan menyempurnakan seluruh janji keselamatan yang pernah dibuat Allah sejak dahulu kala (1 Tes. 5:8-9), menghukum mereka yang jahat dan menegakkan Kerajaan-Nya di dunia.

Dengan demikian kedatangan Yesus kembali ingin memperlihatkan bahwa keselamatan itu berlaku universal dan tidak hanya dirasakan oleh sekelompok orang atau bangsa tertentu. Ia meliputi seluruh sejarah manusia. Kedatangan Yesus kembali juga mengandung dua maksud : di satu sisi membawa keselamatan tapi pada sisi lain membawa penghukuman. [21]

Pembicaraan mengenai Parousia Yesus tidak terlepas dari kenyataan bahwa peristiwa ini berhubungan dengan Kerajaan Allah. Mengutip pernyataan Norman Perrin, maka Kerajaan Allah tidaklah berarti menunjuk pada suatu tempat atau suatu komunitas yang diperintah oleh Allah yang konkritnya bisa dijabarkan sebagai aktivitas Allah. Ia bukanlah suatu otoritas tersembunyi tapi penampakan kekuasaan yang tidak berdasar pada bentuk formal, tapi fungsi.[22]

Yesus dalam pengajaran-Nya tentang Kerajaan Allah seringkali menggunakan istilah Basileia (yunani) yang berarti pemerintahan Allah sebagai Raja dan bukan wilayah kekuasaan.[23]  Mengenai kapan terwujudnya Parousia Yesus ini, masing-masing ahli Biblika mempunyai pendapat yang berbeda.

C.H.Dodd menekankan bahwa Kerajaan Allah telah terwujud secara utuh di dalam dunia sejalan dengan kedatangan Yesus.[24] Tapi pernyataan seperti ini tentunya tentunya tidak disetujui oleh semua pihak. W. Panenberg misalnya mengatakan bahwa tentunya tidak tepat bila Kerajaan Allah telah terwujud sepenuhnya karena bila itu terjadi, maka keadaan dunia akan berbeda.[25]  Albert Schweitzer malah menjadi penggagas ide Kerajaan Allah yang futuris. Menurut Schweitzer, pengharapan eskatologi Yesus sama dengan kebanyakan penulis apokaliptik sejaman-Nya. Yesus percaya Allah segera campur tangan dalam hidup manusia melalui kedatangan Anak Manusia yang akan terjadi tidak lama lagi (Mat. 10:23)[26]  Penengah dari pemahaman yang berbeda ini (antara eskatologi futuris dengan yang terwujud) dicetuskan oleh J.Jeremias yang menyimpulkan bahwa eskatologi berada dalam proses perealisasian dirinya. Ia menyatakan bahwa di dunia ini masih belum ada suatu eskatologi yang benar-benar real. Tindakan penciptaan berada pada garis awal proses itu dan ia terus bergerak tiada henti sampai pada suatu batas yang tidak berujung. Eskatologi tidak lain adalah perjalanan waktu yang menuju kekekalan.

Pada bagian awal suratnya, pandangan rasul Paulus tentang eskatologi banyak didasarkan atas ajaran Yesus. selanjutnya secara bertahap ia mengembangkannya. Misalnya, Paulus melihat kematian dan kebangkitan Yesus tidak hanya untuk menebus dosa manusia tapi sekaligus juga mengalahkan kuasa jahat dan membawa masuk semua orang percaya ke dalam Kerajaan Mesianis. Di satu pihak Paulus menganggap bahwa penyelamatan yang akan datang itu telah terjadi saat ini tetapi tidak berarti semua tindakan kejahatan musnah seketika. Kejahatan itu tetap ada tetapi mereka telah tidak berdaya (Roma 8:31-39) dan siap menanti penghakiman.

Melalui pernyataan di atas Paulus mencoba menjelaskan bahwa masalah yang dihadapi jemaat, kesulitan dan keinginan jahat dalam diri seseorang merupakan manifestasi dari pekerjaan si iblis. Misalnya kepada jemaat di Tesalonika Paulus mengatakan bahwa penghalang baginya untuk mengunjungi mereka tidak lain disebabkan oleh pekerjaan iblis (1 Tes. 3:3-5). Anjuran Paulus kepada jemaat Korintus untuk menikah juga sebagai antisipasi terhadap pekerjaan iblis yang bisa menanamkan pengaruhnya melalui nafsu seksual (1 Kor. 7:1-6). Mengenai musuh-musuhnya yang menyerang di Korintus, Paulus menasihati jemaat agar saling menguatkan dalam kelemahan sebab ia takut kalau-kalau iblis berusaha mendapat keuntungan dari kelemahan jemaat (1 Kor. 2:5-11). Adalah iblis juga yang dianggap menjadi penyebab penderitaan tubuh Paulus (2 Kor. 12:1-7).

Pembinasaan total atas kuasa jahat ini terjadi secara sempurna melalui kedatangan Yesus kembali. Kedatangan-Nya tidak bisa ditentukan oleh perhitungan manusia (1 Tes. 5:1-4) karena Ia bisa datang kapan saja. Pada saat kedatangan-Nya akan terdengar suara nyaring dari Surga; malaikat akan berseru, terompet berbunyi. Orang-orang yang masih hidup akan diangkat ke suatu tempat untuk berkumpul bersama dengan orang yang telah meninggal dan yang akan dibangkitkan itu. Semua orang yang percaya akan terangkat ke Surga untuk bertemu dengan Allah dan akan diam tinggal untuk selamanya dengan Allah (1 Tes. 4:16-17). Bila saat itu tiba, seluruh alam akan mengalami transformasi dari yang dapat binasa kepada keadaan yang tidak dapat binasa (Roma 8:19-22).

Paulus berkali-kali dalam suratnya yang pertama mengungkapkan bahwa kedatangan Tuhan kembali (Parousia) terjadi tidak lama lagi. (bnd. Roma 13:11-14). Bahkan dalam surat pertamanya (1 Tesalonika), Paulus mengatakan bahwa Parousia itu terjadi saat ia dan beberapa orang Kristen mula-mula masih hidup (1 Tes. 4:13-14). Dalam 1 Kor. 15:15-54 ditambahkannya bahwa orang-orang yang masih hidup akan diubah pada saat yang sama.

Namun pengharapan akan Parousia yang bersifat kekinian itu ternyata pada akhirnya menimbulkan masalah karena Kristus yang dinanti itu belum datang. Oleh karena itu, sebelum Paulus meninggal, ia mencoba memberi semacam pembelaan terhadap ajarannya dengan memunculkan ide penundaan parousia. Penerus pemikiran Pauluspun mengembangkan ide tentang ketertundaan Parousia. Meskipun terjadi ketertundaan parousia, tapi aspek kekiniannya tetap dipegang oleh Paulus. Artinya, sejarah keselamatan Allah tetap berlaku dan terlaksana di sini, dijaman ini. Hanya saja ada penambahan baru yakni hadirnya kuasa kejahatan. Kendati karya keselamatan Kristus sudah selesai dalam arti kuasa setan sudah ditaklukkan, namun pengaruhnya masih tetap ada. Misalnya masalah dikotomi realitas “terang-gelap” (1 tes. 5:4-5; 2 Kor. 6:14). Dari sinilah muncul kesan seolah-olah Paulus bersifat dualistis.

Kendati segala kualitas kekinian itu telah diterima, Paulus tetap juga menekankan aspek pengharapan. Ia mulai bicara mengenai “Allah pengharapan” (Roma 15:13). “…Roh Kudus diberikan dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan” (2 Kor. 1:22; 5:5). Oleh Roh dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan (Gal.5:5). “Kita menantikan pernyataan Tuhan kita Yesus Kristus” (1 Kor. 1:7; 1 Tes.1:10 bnd. Filipi 3:20). Dalam Roma 8:25 Paulus menjelaskan pengharapan itu : “..jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun”. Ketegangan antara yang sudah dan belum merupakan kekhasan teologi Paulus. Bagi Paulus ketegangan itu berasal dari ketegangan antara hidup dalam Kristus dan hidup dalam Adam. Oleh karena adanya ketegangan antara keadaan yang sudah dan belum inilah maka ada aturan-aturan etis yang harus dilakukan oleh orang Kristen. Pertama-tama orang Kristen harus berada dalam relasi yang baik dengan Allah dengan tetap mengarahkan diri pada pengharapan yang terbentang di depan. Keterikatan orang Kristen dengan Allah nyata terlihat melalui keterlibatannya dalam komunitas orang percaya.

Kesatuan hidup orang percaya dengan Allah yang diwujudkan melalui solidaritas hidup bersama ini, oleh Paulus diistilahkan dengan ungkapan :”terlibat dan menyatu dengan peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus”. Mereka menjadi orang-orang pilihan yang bila saat Parousia itu tiba, kendati mereka sudah mati, mereka tetap menerima anugerah Allah. Saat berada di dalam dunia, orang percaya yang terhisap di dalam Kristus itu akan masuk dalam suatu keadaan yang berbeda dengan sekitarnya; mereka semakin bertumbuh dalam pengenalan akan Allah dan menjadi sama seperti Kristus, selalu diubah dan disempurnakan.[27]  

 

3.  Makna Gagasan Eskatologi Paulus bagi Kehidupan Jemaat Masa Kini

            Sebenarnya gagasan tentang eskatologi bukanlah sesuatu yang baru bagi jemaat,  bahkan ia sudah menjadi bagian dari pemberitaan-pemberitaan firman di gereja maupun dalam ibadah sejenisnya. Buku-buku Kristen pun juga banyak membahas masalah ini. Pemberitaan tentang eskatologi menjadi menarik justru karena kemisteriusan dan ketidaksanggupan manusia dalam memahaminya secara utuh.

            Meskipun demikian, gagasan eskatologi Paulus cenderung menimbulkan masalah karena tidak semua orang memahami arti mendasar dari ide Paulus tadi. Belajar eskatologi lebih dipahami sebagai upaya menghitung-hitung atau mereka-reka waktu kedatangan Tuhan. Dan yang lebih tragis lagi, gagasan eskatologi Paulus didramatisir sedemikian rupa sehingga ia bukannya menimbulkan rasa damai dan tenteram di hati jemaat, tetapi justru menimbulkan ketakutan dan kekuatiran karena eskatologi identik dengan malapetaka, penghukuman dan kebinasaan. Ada kecenderungan dalam jemaat yang menganggap bahwa eskatologi itu hanya berarti hari kiamat.

              Upaya menghitung-hitung waktu dan hari kedatangan Tuhan kembali ternyata tetap dipegang oleh jemaat sampai saat ini. Keadaan ini tidak ubahnya dengan kelakuan jemaat abad 17-18 M yang hanya berdasarkan pertimbangan rasional dan upaya mencocok-cocokkan ayat-ayat tertentu dengan segera mengklaim bahwa tidak lama lagi Tuhan akan datang dan dunia ini akan menuju titik akhirnya. Misalnya William Miller dari aliran adventisme. Dengan mendasarkan pertimbangan bahwa sehari Tuhan sama dengan satu tahun manusia, ia memperkirakan bahwa Tuhan datang sekitar tahun 1843 atau 1844. Pada awal pemberitaannya memang ide ini diterima dan membawa kebangunan rohani yang besar di tengah jemaat. Tetapi ketika ramalannya tidak terlaksana, jemaat terpecah dan cenderung memberi penilaian negatif kepada Miller khususnya dan kaum rohaniwan pada umumnya.

            Hal kedua, tindakan meramalkan atau menghitung kapan Tuhan datang, bisa membahayakan hubungan jemaat/orang percaya dengan realitas antar agama di sekitarnya. Bisa saja akan muncul sikap intoleran jemaat terhadap agama lain. Hal ini lahir dari kenyataan bahwa jemaat yang terlalu terobsesi dengan masalah eskatologi ini cenderung menutup diri dari dunia luar dan merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Hanya dirinya yang benar dan orang lain di luar dirinya tidak terangkum dalam penyelamatan akhir jaman itu.

            Memang, gagasan eskatologi Paulus membawa manusia pada pemikiran tentang kesementaraan hidup. Hal ini disebabkan karena penekanan pada “….waktu yang sisa..”, tetap kesementaraan hidup ini sebaiknya disikapi dengan bijaksana karena di sinilah inti pengajaran eskatologi Paulus. Paulus mengingatkan bahwa sejalan dengan pengharapan mengenai kesempurnaan janji keselamatan Allah, orang percaya harus dapat memakai waktunya yang masih ada ini untuk berbuat sesuatu bagi orang lain yakni menolong sesama dan memberi kesaksian iman kepada orang di sekitarnya tentang keselamatan itu.

            Bagi orang percaya secara keseluruhan, (khususnya pada masa kini), gagasan eskatologi Paulus baru memiliki makna bila dilihat dari sudut pandang etika. Orang percaya diminta untuk selalu mentaati dan tetap menjaga komitmen imannya yakni bertanggung jawab terhadap setiap keputusan etis yang dibuatnya. Satu hal yang pasti, orang percaya harus menjadi panutan dalam segala perbuatan baik.

 

III.       PENUTUP

            Ada beberapa kesimpulan yang bisa diambil sebagai catatan penutup dari semua pembahasan mengenai gagasan eskatologi Paulus, antara lain :

1.           Pemahaman Paulus tentang eskatologi selalu dibuat berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi oleh jemaat. Dengan kata lain, Paulus membungkus gagasannya di dalam konteks pemikiran jemaat tertentu.

2.           Gagasan eskatologi Paulus tidak berdiri sendiri, artinya ia mengambil alih dan mengolah pemikiran-pemikiran yang berkembang di jamannya maupun pada jaman sebelumnya. Oleh karena itu tidak ada gagasan yang murni sebagai pikiran Paulus.

3.           Gagasan eskatologi Paulus berfokus pada diri dan peristiwa yang melingkupi kehidupan Yesus. Jadi, suatu eskatologi yang bersifat Kristologis. Dengan gagasan utama pada peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus, maka Paulus tampil sebagai teolog yang membangun teologi yang Kristosentris. Berdasarkan semua pemikiran itu, Paulus menyatakan bahwa melalui kematian dan kebangkitan Yesus, keselamatan dan Kerajaan Allah sudah dialami oleh orang percaya. Hal ini memberi keyakinan kepada orang percaya bahwa tidak ada satupun masalah yang menakutkan mereka. Bahkan kematianpun bukan lagi sebagai sesuatu yang menakutkan karena :”..tidak ada satupun kuasa yang bisa memisahkan kita dari kasih Tuhan”

4.           Setiap orang yang mati di dalam Kristus, walaupun belum mengalami Parousia Yesus, telah mengalami kebangkitan bersama dengan Kristus, berpartisipasi di dalamnya karena adanya kebangkitan Yesus.

5.           Dalam perkembangan selanjutnya, gagasan eskatologi Paulus mengalami perkembangan dan perubahan makna. Artinya konteks eskatologi yang sebenarnya menawarkan suatu penghiburan dan ketentraman di hati orang percaya telah dipersempit. Ia hanya diartikan sebagai ide yang berbicara tentang akhir dunia dan cenderung menakutkan. Peristiwa kedatangan Tuhan bermakna penghukuman saja dan diperhitungkan menurut pertimbangan manusia. Padahal kedatangan-Nya juga membawa keselamatan dan masalah waktu kedatangan-Nya tidak perlu diukur karena tidak ada yang mengetahuinya, kecuali “…Bapa di Surga”.

 

DAFTAR   KEPUSTAKAAN

 

Burrows, Millar, An Outline of Biblical Theology, Philadelphia : The Westminster Press, 1946.

 

Beker, J.Christiaan, Paul The Apostle, Philadelphia : Fortress Press, 1980

 

Braaten, Carl E., Eschatology and Ethics, Minnesota : Augburgh Publishing

House, 1974.

 

Bultmann, R.,  Theology of The New Testament, New York : Charles Scribner’s Son,1955.

 

Drane, John, Memahami Perjanjian Baru, Jakarta : BPK. Gunung Mulia, 1996,

 

Dunn, James D.G., Unity and Diversity in The New Testament, Philadelphia : The

Wesminster Press, 1990.

 

Fohrer, Georg, History of Israelite Religion, London : S.P.C.K, 1972

 

Jacobs, Tom, Paulus : Hidup, Karya dan Teologinya, Jakarta : BPK.Gunung Mulia dan

Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 1992

 

Koch, Klaus, The Rediscovery of Apocalyptic, London : SCM. Press, 1972

 

Kummel, W.G.,  Promise and Fulfillment : The Eschatology of Jesus, Chatam : W&J

Mackay & Co, Ltd.,1957.

 

Ladd, G.E., A Theology of The New Testament, Cambridge : The Lutterworth Press, 1991,

 

Perrin, Norman, Rediscovery The Teaching of Jesus, London : SCM. Press, 1967

 

Preuss, Horst Dietrich, Old Testament Theology (Vol. II), Edinburgh : T & T Clark, 1996.

 

Ridderbos, Herman, Paul : An Outline of His Theology, Grand Rapids : William

B.Eerdmans Publishing Company, 1997

 

Russell, D.S., Penyingkapan Ilahi, Jakarta : BPK. Gunung Mulia, 1993

Schweitzer, Albert, The Mysticism of paul Thought, London : A & C Black, 1931,

 

Wenham, David, Paul : Follower of Jesus or Founder of Chriatianity, Grand Rapids :

William B. Eerdmans Pblishing Company, 1995

 

Ziesler, John, Pauline Christianity,  Oxford :  Oxford University Press, 1990



[1]  John Ziesler, Pauline Christianity,  Oxford :  Oxford University Press, 1990, p. 8-17.

[2] Georg Fohrer, History of Israelite Religion, London : S.P.C.K, 1972, p.327-329

[3] Ibid, p. 341-347

[4] Ibid, p. 349

[5] Horst Dietrich Preuss, Old Testament Theology (Vol. II), Edinburgh : T & T Clark, 1996, p.148-150

[6] Millar Burrows, An Outline of Biblical Theology, Philadelphia : The Westminster Press, 1946, p. 204.

[7] Preuss, Opcit, p. 151

[8] Ibid, p. 153

[9] D.S.Russell, Penyingkapan Ilahi, Jakarta : BPK. Gunung Mulia, 1993, p.19

[10] Klaus Koch, The Rediscovery of Apocalyptic, London : SCM. Press, 1972, p. 13. Lih. Juga James D.G.Dunn, Unity and Diversity in The New Testament, Philadelphia : The Wesminster Press, 1990, p. 309-311.

[11] G.E.Ladd, A Theology of The New Testament, Cambridge : The Lutterworth Press, 1991, p. 629-632.

[12] Millar Burrows, Opcit, p.189

[13] David Wenham, Paul : Follower of Jesus or Founder of Chriatianity, Grand Rapids : William B. Eerdmans Pblishing Company, 1995, p. 39-45

[14] Tom Jacobs, Paulus : Hidup, Karya dan Teologinya, Jakarta : BPK.Gunung Mulia dan Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 1992, p.247

[15] Herman Ridderbos, Paul : An Outline of His Theology, Grand Rapids : William B.Eerdmans Publishing Company, 1997, p.29.

[16] Ibid, p. 40

[17] R. Bultmann, Theology of The New Testament, New York : Charles Scribner’s Son, 1955, p.246-247.

[18] J.Christiaan Beker, Paul The Apostle, Philadelphia : Fortress Press, 1980, p.213-217.

[19] David Wenham, Opcit, p.154

[20] George Eldon Ladd, A Theology of The New Testament, Cambridge : Lutterworth  Press, 1991, p.555-556  

[21] Ibid, p. 557

[22] Norman Perrin, Rediscovery The Teaching of Jesus, London : SCM. Press, 1967, p. 55

[23] John Drane, Memahami Perjanjian Baru, Jakarta : BPK. Gunung Mulia, 1996, p. 128

[24] W.G.Kummel, Promise and Fulfillment : The Eschatology of Jesus, Chatam : W&J Mackay & Co, Ltd., 1957, p. 66

[25] Carl E. Braaten, Eschatology and Ethics, Minnesota : Augburgh Publishing House, 1974, p. 11

[26] John Drane, Opcit, p. 132

[27] Albert Schweitzer, The Mysticism of paul Thought, London : A & C Black, 1931, p.107-110